Bulan ini, radio-yang-selalu-gue-dengerin masang tagline "Don’t judge the book by it’s cover!" Yang akhirnya membuat gue bertanya-tanya..mungkin ga si? gue jujur aja, sebagai manusia gue cukup dangkal dan merasa gue juga ngeliat orang berdasarkan tampang….jujur deh, sapa sih yang ngga??
Gue jadi inget chicklit indonesia, Beauty Case, karangan icha rahmanti, disitu dia intinya menyatakan kalo orang yang cantik itu beruntung karena dilahirkan di zaman yang tepat. Seperti temen gue -N- , dia itu udah dianggap universally cute, karena putih, langsing, mancung [idungnya, bukan giginya pasti], pokoknya tipikal cantik yang sedang marak saat ini. kalo dia lahir di taun- taun dulu, mungkin dia ga dianggap cantik, karena yang nge-trend waktu itu cewe item, berisi, dsb, dsb…
Cantik itu pandangan umum, yang dibentuk sama media massa dan pandangan orang yang ada di sekeliling kita. Kita dengan mudahnya percaya dan menyerapi pandangan itu, meskipun tiap-tiap orang punya definisi cantik dan cakep sendiri tapi tetep aja ada yang umum dalam definisi cantik & cakep.
Menurut gue, sikap menilai-orang-berdasarkan-tampang itu adalah konspirasi besar-besaran dari dongen masa kecil seperti beauty and the beast, Cinderella,sampe ke iklan susu kesehatan untuk pria, L-m*n (kerempeng mana keren…). Intinya, sanggup ga kita melawan konspirasi itu? sanggup ga kita mulai bener2 ngeliat ke dalam hati seseorang dan menerima dia apa-adanya? Melawan definisi cantik yang umum beredar di sekitar kita?
Mungkin kita harus sekalian memperbarui dongeng-dongeng anak2 jadi kaya SHREK, akhirnya putri berubah jadi buruk rupa..and still!! lives ugly ever after.. Mungkin kita harus mulai dari diri kita sendiri..
Lagipula, kecantikan itu cuma screensaver
**/ Datang dari orang yang berusaha berubah dan berhenti melihat dan menilai seseorang dari luar….